Untuk itulah aku selalu berselancar di sosial media untuk mencari informasi seputar webinar atau workshop yang berkaitan dengan academic writing ini. Tujuannya ya tentu saja untuk belajar dan menambah wawasanku seputar dunia tulisan ilmiah. Beruntungnya aku sebagai pengikut dari akun instagram @publikasiilmiah bisa mendapatkan informasi terkait dunia penulisan ilmiah. Senyumku langsung mengembang ketika melihat informasi bahwa Kemenristek/BRIN yang berkolaborasi dengan AIFIS mengadakan workshop academic writing secara gratis yang bisa diakses kapan saja melalui laman YouTube Kemenristek/BRIN.
Sumber Gambar : Akun Instagram @kementerianristekbrin |
Tiga Sesi Workshop Academic Writing bersama Kemenristek/BRIN x AIFIS
Workshop ini diadakan dari tanggal dua november sampai dengan empat november dan memiliki tiga sesi. Workshop ini diadakan dalam rangka peningkaran kualitas penulisan publikasi ilmiah. Untuk itu, Direkrotar Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional bekerja sama dengan The American Institue For Indonesian Studies (AIFIS) dalam menyelenggarakan workshop ini.
Sumber Gambar : Akun Instagram @kementerianristekbrin |
Sesi Pertama Workshop Academic Writing bersama Kemenristek/BRIN x AIFIS
Untuk sesi pertama ini diadakan pada hari Senin, tanggal dua november jam 18.30 Waktu Indonesia Barat. Untungnya saat itu aku sedang mempunyai waktu luang sehingga aku bisa menyimak jalannya sesi pertama dari awal sampai akhir. Dengan buku catatan dan pena di tanganku, aku siap mengisi otakku dengan amunisi pengetahuan baru seputar academic writing.
Sesi pertama workshop ini membahas dua sub tema, yaitu :
- Writing for Publication and What Journal Editors Look For
- Current Trends in Academic Publishing.
Sesi materi kemudian di-break down lagi menjadi tiga bagian, yaitu :
- Part I : What Journal Editors Look For
- Part II : Writing for Academic Publication
- Part III : Getting Published
Part I : What Journal Editors Look For
Setelah mengetahui siapa yang akan membaca tulisannya, seorang penulis wajib mengetahui apa yang pembacanya inginkan. Saat seseorang membaca sesuatu, biasanya itu karena ia ingin tahu tentang sesuatu tersebut. Ada pertanyaan yang terlintas di kepalanya. Dosenku pernah berkata,
Membaca itu adalah proses bertanya.Itulah mengapa, tulisan ilmiah dimulai dengan pertanyaan seputar fakta, seperti siapa, apa, kenapa, dan di mana. Lalu selanjutnya diikuti oleh pertanyaan yang lebih kompleks, yaitu kenapa dan bagaimana. Dan jawaban atas dua pertanyaan inilah yang dikemas dalam bentuk argumen. Tulisan yang baik dimulai dengan pertanyaan yang menarik dan disisipkan di argumen.
Setelah menimbang tentang siapa yang akan menjadi audiens dari tulisan tersebut, maka selanjutnya yang seorang editor perhatikan adalah naskah tulisan itu sendiri. Apakah jurnal atau artikel ilmiah ini sesuai dengan topik? Apakah penulisan jurnal atau artikel ilmiah ini sesuai dengan guidelines yang telah diberikan? Untuk itu, sangat penting bagi penulis untuk mengecek guidelines sebelum submit tulisannya.
Jika sebuah tulisan lulus tahap ini, maka selanjutnya editor akan menyimak komponen-komponen tulisan ilmiah yang paling penting, antara lain yaitu, judul tulisan, abstrak, kata kunci, introduction, dan kesimpulan.
Part II : Writing for Academic Publication
Seperti yang kita tahu, judul adalah first impression pembaca terhadap sebuah tulisan. Maka dari itu sebuah judul harus mengandung topik pembahasan tulisan, menjelaskan tentang waktu dan tempat dilaksanakannya sebuah penelitian, singkat (idealnya judul tulisan jurnal atau artikel ilmiah adalah sekitar sepuluh sampai dua belas kata saja), dan bisa menarik perhatian pembaca.
Setelah judul, bagian kedua yang diperhatikan adalah abstrak. Abstrak ini bisa didefinisikan sebagai ringkasan dari tulisan ilmiah itu. Karena ini adalah ringkasan, maka haruslah singkat. Idealnya sekitar seratus lima puluh sampai dua ratus kata saja. Bagian abstrak ini harus memuat tentang topik penelitian, menjawab research question, menunjukkan pentingnya penelitian ini dilaksanakan, dan yang terakhir, abstrak harus bisa berdiri sendiri sebagai penjelasan.
Abstrak tidak boleh menjelaskan tentang suatu karya atau tulisan lain. Abstrak juga tidak boleh berisi kritik terhadap tulisan orang lain. Abstrak juga tidak boleh berisi informasi yang terlalu luas. Kalimat dalam abstrak juga tidak boleh yang seperti ini :
"This article will discuss A, B, C, ...."
Tetapi sebaiknya :
"Based on a study about A, B, C, I conclude that [state the conclusion]"
Contoh kalimat di bagian abstrak lain yang salah adalah :
"In this article, I attempt to show ...."
Kalimat ini menggunakan kata 'attempt' yang mengindikasikan bahwa sang penulis merasa ragu terhadap hasil penelitiannya sendiri. Maka dari itu, sebaiknya kalimatnya diganti menjadi :
"In this article, I show ... Or I demonstrate ...."
Jika dirasa kalimat ini terlalu 'strong', maka alternative lainnya adalah :
"In this article, I argue ...."
Karena abstrak adalah ringkasan dari tulisan, maka biasanya abstrak akan ditulis terakhir setelah sang penulis selesai menulis bagian kesimpulan.
Setelah abstrak, apa lagi yang harus diperhatikan? Yaps, benar sekali, keywords. Keywords akan membantu menarik perhatian pembaca dan akan membantu tulisan kita muncul di mesin pencarian jika tulisan kita diterbitkan secara online. Berapa kata idealnya untuk sebuah kata kunci tulisan ilmiah? Yaitu sekitar lima sampai sepuluh kata. Keyword harus spesifik, tidak boleh terlalu luas dan general. Keyword juga biasanya merupakan short phrase, yaitu sekitar dua sampai empat kata. Keyword juga haruslah kata-kata yang biasa digunakan dalam artikel atau jurnal ilmiah. Setelah memilih keyword, cobalah cari kata-kata pilihanmu itu (misalnya di google scholar) untuk melihat artikel dengan keyword yang sama denganmu.
Barulah akhirnya editor berpindah dan menyimak argumen yang dibuat oleh penulis dalam tulisannya. Seperti yang sudah aku bahas di awal tadi, bahwa sebuah penelitian diawali dengan fakta, yaitu seputar siapa, apa, kapan, dan di mana. Kemudian diikuti oleh pertanyaan yang sifatnya analisis seperti kenapa dan bagaimana. Untuk menjawab sebuah pertanyaan, itulah yang disebut dengan klaim atau argumen. Tulisan yang bagus menjawab pertanyaan yang bersifat analisis.
Contoh dari argumen, dimulai dari fakta :
"Joe Biden won the 2020 President Election in United States."
Kalimat ini mengcover pertanyaan siapa, apa, kapan, dan di mana. Tetapi gagal menjawab pertanyaan yang penting, yaitu kenapa dan bagaimana. Mengapa Joe Biden menang? Bagaimana Joe Biden menang? Lalu penulis menjawab pertanyaan ini dengan argumennya,
"Joe Biden won the election because ...."
Setelah judul, bagian kedua yang diperhatikan adalah abstrak. Abstrak ini bisa didefinisikan sebagai ringkasan dari tulisan ilmiah itu. Karena ini adalah ringkasan, maka haruslah singkat. Idealnya sekitar seratus lima puluh sampai dua ratus kata saja. Bagian abstrak ini harus memuat tentang topik penelitian, menjawab research question, menunjukkan pentingnya penelitian ini dilaksanakan, dan yang terakhir, abstrak harus bisa berdiri sendiri sebagai penjelasan.
Abstrak tidak boleh menjelaskan tentang suatu karya atau tulisan lain. Abstrak juga tidak boleh berisi kritik terhadap tulisan orang lain. Abstrak juga tidak boleh berisi informasi yang terlalu luas. Kalimat dalam abstrak juga tidak boleh yang seperti ini :
"This article will discuss A, B, C, ...."
Tetapi sebaiknya :
"Based on a study about A, B, C, I conclude that [state the conclusion]"
Contoh kalimat di bagian abstrak lain yang salah adalah :
"In this article, I attempt to show ...."
Kalimat ini menggunakan kata 'attempt' yang mengindikasikan bahwa sang penulis merasa ragu terhadap hasil penelitiannya sendiri. Maka dari itu, sebaiknya kalimatnya diganti menjadi :
"In this article, I show ... Or I demonstrate ...."
Jika dirasa kalimat ini terlalu 'strong', maka alternative lainnya adalah :
"In this article, I argue ...."
Karena abstrak adalah ringkasan dari tulisan, maka biasanya abstrak akan ditulis terakhir setelah sang penulis selesai menulis bagian kesimpulan.
Setelah abstrak, apa lagi yang harus diperhatikan? Yaps, benar sekali, keywords. Keywords akan membantu menarik perhatian pembaca dan akan membantu tulisan kita muncul di mesin pencarian jika tulisan kita diterbitkan secara online. Berapa kata idealnya untuk sebuah kata kunci tulisan ilmiah? Yaitu sekitar lima sampai sepuluh kata. Keyword harus spesifik, tidak boleh terlalu luas dan general. Keyword juga biasanya merupakan short phrase, yaitu sekitar dua sampai empat kata. Keyword juga haruslah kata-kata yang biasa digunakan dalam artikel atau jurnal ilmiah. Setelah memilih keyword, cobalah cari kata-kata pilihanmu itu (misalnya di google scholar) untuk melihat artikel dengan keyword yang sama denganmu.
Barulah akhirnya editor berpindah dan menyimak argumen yang dibuat oleh penulis dalam tulisannya. Seperti yang sudah aku bahas di awal tadi, bahwa sebuah penelitian diawali dengan fakta, yaitu seputar siapa, apa, kapan, dan di mana. Kemudian diikuti oleh pertanyaan yang sifatnya analisis seperti kenapa dan bagaimana. Untuk menjawab sebuah pertanyaan, itulah yang disebut dengan klaim atau argumen. Tulisan yang bagus menjawab pertanyaan yang bersifat analisis.
Contoh dari argumen, dimulai dari fakta :
"Joe Biden won the 2020 President Election in United States."
Kalimat ini mengcover pertanyaan siapa, apa, kapan, dan di mana. Tetapi gagal menjawab pertanyaan yang penting, yaitu kenapa dan bagaimana. Mengapa Joe Biden menang? Bagaimana Joe Biden menang? Lalu penulis menjawab pertanyaan ini dengan argumennya,
"Joe Biden won the election because ...."
Part III : Getting Published
Selepas menulis tulisan ilmiahnya, tentu saja seorang penulis ingin mempublikasikan tulisan ilmiahnya agar bisa dibaca oleh orang lain. Penting bagi seorang penulis untuk mencari journal publisher yang menerima tulisan sesuai dengan topik tulisannya. Seorang penulis bisa memilih untuk menerbitkan tulisannya di jurnal tingkat region, tingkat nasional, atau bahkan tingkat internasional.
Jika seorang penulis telah memilih di mana tempat dia akan menerbitkan tulisannya, sangat penting baginya untuk melakukan research secara mendalam tentang publisher tersebut. Cari tahu bagaimana karakteristik tulisan yang biasanya diterima oleh publisher tersebut. Hal ini akan membantu menaikkan kemungkinan tulisan akan diterima dan diterbitkan oleh sang publisher.
Nah itulah tadi sedikit yang bisa aku bahas dari event workshop academic writing yang diadakan oleh Kemenristek/BRIN x AIFIS pada tanggal 2 November 2020 lalu, jika Royaltea ingin menyimak materinya secara lengkap, Royaltea bisa mampir ke YouTube Channel milik Kemenristek/BRIN.
Jika seorang penulis telah memilih di mana tempat dia akan menerbitkan tulisannya, sangat penting baginya untuk melakukan research secara mendalam tentang publisher tersebut. Cari tahu bagaimana karakteristik tulisan yang biasanya diterima oleh publisher tersebut. Hal ini akan membantu menaikkan kemungkinan tulisan akan diterima dan diterbitkan oleh sang publisher.
Nah itulah tadi sedikit yang bisa aku bahas dari event workshop academic writing yang diadakan oleh Kemenristek/BRIN x AIFIS pada tanggal 2 November 2020 lalu, jika Royaltea ingin menyimak materinya secara lengkap, Royaltea bisa mampir ke YouTube Channel milik Kemenristek/BRIN.
Akhir kata, sampai jumpa lagi di postinganku selanjutnya! Bye~
Kuliahnya jurusan bahasa Inggris ya, Kak? Ah, belajar academic writing ini butuh niat dan konsisten yang sungguh-sungguh. Aku pernah di Kampung Inggris ambil kelas ini, sehari masuk kelas langsung kayak modyaaaaar.
BalasHapusApakah efektif belajar secara online?
Wahh semester lima yah Mba, semangat Mba, semoga nanti pas skripsian lancar jaya dengan bekal dari kelas kelas menarik kayak gini :)
BalasHapusmateri workshopnya keren2 ih
BalasHapusDithnggu krya karya selanjutnya mbak.. fighting!!
BalasHapuswaduh pakai bahasa inggris, yang sehari-hari aja agak gimana gitu bahasa inggrisnya apalagi bahasa ilmiah
BalasHapusAuto berasa masih mahasiswa imut saya baca artikel ini. wkwkwkwk.
BalasHapusJadi inget kakak yang cari universitas buat bisa terbitin jurnalnya sebagai syarat kelulusan. Semangat Mbak Mulya
BalasHapusAnak rajin ini, semoga sukses kuliahnya ya kak.
BalasHapus